16 Desember 2010

Satu Suara Untuk Iklim

CANCUN-MEKSIKO - Indonesia sebagai Ketua ASEAN bakal intensif menggalang negara-negara anggota persekutuan regional itu untuk satu posisi menyuarakan isu perubahan iklim pada KTT Perubahan Iklim ke-17 di Durban, Afrika Selatan pada 2011.
"Sejak Januari 2011, pejabat senior dari 10 negara ASEAn bakal bertemu dan rapat untuk mempersiapkan suara bersama ASEAN dengan baik," kata Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta pada KTT ke-17 Perubahan Iklim di Cancun, Meksiko, Jumat.

Gusti melihat selama ini ASEAN tidak satu suara atau posisi dalam negosiasi KTT Perubahan Iklim.

"Kita memberi sinyal bahwa selama Indonesia menjadi Ketua ASEAN pada 2011 maka akan lebih menonjolkan ASEAN, seperti dalam isu perubahan iklim," katanya.

Isu perubahan iklim yang akan dibahas intra ASEAN adalah mitigasi dan adaptasi termasuk program pengurangan emisi dari penggundulan dan kerusakan hutan (REDD plus).

Delegasi Indonesia berusaha tampil aktif dalam KTT ke-17 Perubahan Iklim, bahkan Indonesia ditunjuk menjadi salah satu fasilitator untuk melobi negara-negara peserta dalam hal mitigasi dan MRV perubahan iklim.

"Presiden COP-16 (Patricia Espinosa) telah memberi kepercayaan kepada Indonesia, bersama beberapa menteri strategis negara-negara lain untuk menjadi fasilitator negosiasi dalam pencarian titik temu antara negara-negara kunci," kata Ketua Delegasi RI Rachmat Witoelar di Cancun, Meksiko. Langkah ini dilakukan karena Presiden COP merasa negosiasi COP cenderung akan macet, tambahnya.

Presiden COP-16, Patricia Espinosa, secara eksplisit meminta bantuan para fasilitator untuk memfasilitasi kemajuan negosiasi di beberapa isu mengenai mitigasi dan MRV (Measurement, Reporting, and Verification).

Indonesia melihat penunjukan ini sebagai penegasan atas pengakuan dunia kepada peran Indonesia yang mampu melakukan pendekatan konstruktif kepada negara-negara kunci.
Ant

Tidak ada komentar: